Orbital dan
peranannya dalam ikatan kovalen:
a. Orbital
hibrida dari
Nitrogen dan oksigen
· Orbital hibridisasi Nitrogen
Tiga
orbital sp3 pada atom N digunakan untuk berikatan dengan atom H,
sedangkan satu orbital sp3 yang memiliki sepasang electron bebas
merupakan orbital nonbonding. Akibat adanya orbital nonbonding pada molekul NH3
, pasangan electron bebas pada orbital tersebut menyebar kearah luar atom
nitrogen sehingga sudut ikatan yang dibentuk sebesar 1070 yang lebih
kecil dari sudut ikatan tetrahedral murni.
orbital sp3 yang digunakan dalam NH3
Hibridisasi orbital 2s dan satu orbital 2p Nitrogen menghasilkan 2 orbital hibrid 2sp (atau sp saja) yang terpisah 1800 (linier). Satu orbital 2sp sudah terisi 2e- dan satu orbital 2sp yang lain baru terisi 1e- à bisa mengikat satu atom yang terhibridisasi sp juga membentuk ikatan σ.
Dua
orbital 2p yang tidak terhibridisasi dan masing-masing terisi 1e-
terletak tegak lurus pada garis ikatan tersebut dan dapat saling mengadakan
overlapping antara orbital py-py dan pz-pz
menghasilkan 2buah ikatan π.
Gunakan teori VSEPR untuk menjelaskan struktur NH3, dan menyarankan
skema hibridisasi sesuai untuk atom N
Perhatikan gambar diatas :
ü arah orbital yang membentuk sebuah set dari empat orbital
hibrida sp3 sesuai dengan tetrahedral array.
ü Hubungan antara tetrahedron dan kubus;
di
CH4, empat atom H menempati sudut alternatif kubus,
dan kubus mudah berhubungan dengan sumbu set Cartesian. Konfigurasi elektron keadaan dasar dari
N adalah [He] 2s22p3. tiga dari lima elektron
valensi yang digunakan untuk membentuk tiga Ikatan tunggal N―H, meninggalkan
satu pasangan elektron bebas. Struktur piramidal trigonal, berasal dari
tetrahedral susunan pasangan elektron:
N atom memiliki empat valensi orbital atom: 2s, 2px, 2py dan 2pz. Skema sp3 hibridisasi memberikan tetrahedral pengaturan orbital hibrida, sesuai untuk menampung empat pasang electron :
·
Orbital hibrida dari oksigen
Orbital hibrida dari oksigen
Hibridisasi
yang berikatan dengan pembentukan ikatan dalam molekul H2O dapat
diterangkan menggunakan orbital hibrida sp3 pada atom oksigen .
Dua
orbital ikatan dalam molekul air dapat dipandang sebagai kombinasi orbital 1s
dari hydrogen dengan satu orbital sp3 dari atom oksigen membentuk
dua orbital ikatan σ. Terdapat delapan electron valensi dalam molekul H2O,
enam dari atom oksigen dan dua dari atom hydrogen. Empat electron valensi
menghuni dua orbital ikatan σ dan empat electron lainnya menghuni dua orbital
sp3 yang tidak berikatan.
Sesuai
dengan ramalan teori VSEPR bahwa sudut ikatan H‑O-H dalam molekul H2O
lebih kecil dari sudut tetrahedral murni disebabkan pasangan electron bebas
menolak lebih kuat terhadap pasangan electron ikatan sehingga terjadi distorsi
struktur dari keadaan tetrahedral murni.
Jika
ditinjau dari konfigurasi electron valensi pada atom oksigen, pembentukan
orbital hibrida sp3 dapat diuraikan sebagai berikut :
Agar
terbentuk empat buah orbital ekivalen, maka orbital 2s dan 3p dikombinasikan
untuk membentuk empat buah orbital hibrida yang ekivalen.
Orbital
tersebut dinamakan orbital hibrida sp3 konfigurasi elektronik dalam
orbital hibrida sp3 mengikuti aturan hund.
Dua
orbital sp3 setengah penuh bertumpangsuh secara maksimal dengan
setiap orbital 1s dari atom hydrogen membentuk dua orbital ikatan σ
terlokalisasi yang ekivalen. Dua orbital sp3 sisa tidak digunakan
untuk berikatan tetapi dihuni oleh pasangan electron bebas yang berasal dari
atom oksigen. Keempat orbital membentuk susunan tetrahedral. Tetapi akibat
adanya pasangan electron bebas pada orbital sp3 menimbulkan distorsi
dari struktur tetrahedral, sehingga sudut yang dibentuk ole ikatan H-O-H lebih
kecil dari sudut tetrahedral murni.
b. Ikatan
rangkap terkonjugasi
Sistem konjugasi
terjadi dalam senyawa
organik yang atom-atomnya
secara kovalen berikatan tunggal dan ganda secara bergantian (C=C-C=C-C) dan memengaruhi
satu sama lainnya membentuk daerah delokalisasi elektron.
Konjugasi dapat terjadi dengan keberadaan gugus pendonor orbital p yang berbeda. Furan dianggap memiliki sistem konjugasi oleh karenanya.
Perbedaan ikatan rangkap terkonjugasi dan terisolasi ialah
:
Ikatan rangkap terkonjugasi :
ikatang rangkap yang berselang seling,
dapatmembentik resonansi
Ikatan rangkap terisolasi:
c. Benzena
dan resonansi
ü BENZENA
Ikatan
rangkap pada benzene berbeda dengan ikatan rangkap pada alkena atau alkuna. Ikatan
rangkap pada alkena atau alkuna dapat mengalami reaksi adisi, sedangkan ikatan
rangkap pada benzene tidak dapat diadisi, tetapi benzena dapat bereaksi secara
substitusi.
Pada
tahun 1865, friedrich august kekule menurutnya keenam atom karbon pada benzene tersusun
secara melingkar membentuk segienam beraturan dengan sudut ikattan
masing-masing 1200. Ikatan antaratom karbon adalah ikatan rangkap
dua dan ikatan tunggal bergantian,.
Analisis
sinar x terhadap struktur benzene menunjukkan bahwa panjang ikatan antara atom
karbon pada benzene sama, yaitu 0,139 nm. Adapun panjang ikatan rangkap dua C=C
adalah 0,134 nm dan panjang ikatan tunggal C-C adalah 0,154nm. Jadi, ikatan
karbon-karbon pada molekul benzene berada diantara ikatan rangkap dua dan
ikatan tunggal. Hal ini menggugurkan struktur menurut kekule.
Berdasarkan
hasil analisis sinar x maka diusulkan bahwa ikatan rangkap dua karbon-karbon
pada molekul, benzene tida terlokalisasi pada karbon tertentu melainkan dapat
berpindah-pindah. Gejala ini dinamakan juga resonansi.
struktur benzena menurut model delokalisasi elektron.
ü RESONANSI
Dengan
menggunakan rumus titik electron diketahui bahwa molekul SO2
memiliki dua struktur yang ekivalen. Rumus strukturnya :
Pada
rumus
a.
Ikatan belerang-oksigen pada sebelah kiri
rangkap dua dan sebelah kanan tunggal.
b.
Kedaan berlawanan.
Panjang
ikatan antara S dan O hanya satu harga yaitu berada di antara ikatan tunggal
dan ikatan rangkap dua. Oleh sebab itu, salah satu dari pasangan electron ikatan
tersebar di permukaan semua inti atom. Artinya, tidak terpatri hanya padaa
salah satu ikatan SO. Keadaan ini dinamakan ikatan terdelokalisasi, yaitu jenis
ikatan dimana pasangan electron ikatan tersebar keseluruh atom yang berikatan,
tidak hanya milik salah satu pasangan ikatan seperti digambarkan diatas. Ikatan
terdekalisasi ditunjukkan pada gambar :
Garis
putus-putus menunjukkan pasangan electron ikatan tersebar pada ketiga inti
atom. Akibatnya, ikatan belerang-oksigen
tidak tunggal juga tidak rangkap dua, tetapi berada diantaranya.
Untuk
menyesuaikan data panjang ikatan dengan penulisan struktur lewis, pakar kimia
mengusulkan adanya resonansi.
Resonansi
adalah penulisan struktur untuk suatu spesi yang memiliki lebih dari satu
bentuk struktur yang sesuai aturan dan diterima akal.
Struktur
yang dianggap benar merupakan hibrida (campuran) dari beberapa struktur yang
dapat diterima menurut logika.
Dengan
demikian, struktur electron SO2 dapat dituliskan dalam bentu dua
rumus resonansi, seperti digambarkan diatas. Dengan perjanjian, bahwa semua
rumus resonansi harus dihubungkan dengan tanda panah berkepala dua.
Dengan
lambang (↔) menyatakan keadaan resonansi
antara struktur-struktur yang diterima secara logika.
Pada
penulisan rumus resonansi, posisi inti harus sama dengan posisi yang dituliskan
menurut aturan rumus titik-elekron dari lewis, yakni mengikuti aturan oktet, dan
rumus resonansi hanya bersifat teoretik bukan sesungguhnya, sebab struktur
molekul sesungguhnya haanya satu macam.
Jika
diketahui panjang ikatan antar atom O-O sebesar 1,278Å bentuk resonansinya
adalah :
Terdapat
dua bentuk struktur dari molekul ozon, yaitu :

















Mengapa ikatan rangkap pada benzene tidak dapat diadisi?
BalasHapusBisakah anda memberi contoh soal untuk materi ini serta pembahasannya? terimakasih
BalasHapusBlog yang anda buat sudah Bagus dan memberikan informasi yang bermanfaat ,yang sudah disertakan dengan gambar yang menarik.
BalasHapusTerimakasih
Blog yang anda buat sudah Bagus dan memberikan informasi yang bermanfaat ,yang sudah disertakan dengan gambar yang menarik.
BalasHapusTerimakasih