Orbital dan peranannya dalam Ikatan Kovalen
A. SIFAT
GELOMBANG
Teori
atom berdasarkan mekanika kuantum dirumuskan oleh werner Heisenberg dan Erwin
schrodinger, yang waktunya hampir bersamaan tetapi berbeda tempat. Keunggulan teori atom mekanika
kuantum dapat menjelaskan materi berskala mikro. Hukum mekanika klasik, seperti
hukum newton dapat menjelaskan materi berukuran
makro dengan akurat, tetapi mekanika klasik tidak mampu menjelaskan
berbagai gejala yang ditimbulkan oleh materi berskala mikro seperti electron,
atom, atau molekul. Materi berskala mikro dapat dijelaskan dengan teori
mekanika kuantum, walaupun sesungguhnya teori ini masih belum sempurna, sebab
penyelesaian eksak teori mekanika kuantum hanya untuk atom hydrogen atau atom
serupa hydrogen.
1.
DUALISME MATERI
Berdasarkan sifat partikel materi, Louis de
Broglie menyatakan bahwa jika energy radiasi memiliki sifat partikel dalam
gerakannya maka materi juga harus memiliki sifat gelombang dalam gerakannya.
Menurut de Broglie, setiap materi, baik berukuran
mikro seperti electron ataupun benda makro seperti bola pingpong atau
benda-benda lain yang lebih besar seperti planet dan bintang-bintang harus
memiliki sifat gelombang dalam gerakannya.
Sifat gelombang materi dibuktikan oleh de Broglie
secara matematik untuk menunjukkan hubungan kuantitatif antara panjang
gelombang, massa partikel dan kecepatan gerak partikel melalui penggabungan
persamaan planck (E = h v) dan persamaan Einstein (E = m c2).
Mc2 = h v
Persamaan diatas dikenal dengan panjang gelombang
de Broglie, yang menyatakan hubungan antara sifat gelombang materi dan sifat
partikel materi (m v). hasil kali masa dan kecepatan disebut momentum, sehingga
persamaan diatas dapat diatas dalam bentuk :
(RUMUS 2)
Persamaan
diatas menyatakan bahwa panjang gelombang berbanding terbalik dengan momentum.
Jadi untuk gerakan benda berukuran besar, seperti bola basket memiliki momentum
sangat besar sehingga panjang gelombangnya sangat kecil dibandingkan ukurannya
sekitar ± 10 nm. Tetapi untuk gerakan
electron dalam atom yang memiliki massa sangat kecil, momentum yang dihasulkan
juga sangat kecil, akibatnya gerakan electron memiliki panjang gelombang
relative besar dibandingkan ukurannya, berkisar antara 1 – 100 nm. Sifat
gelombang dari electron telah dibuktikan melalui percobaan difraksi electron
oleh C. Davisson dan H. Germer pada tahun 1927 di USA, dan oleh G. P. Thomsom
di Inggris.
Namun, dalam 1923, Louis de Broglie mengemukakan
bahwa elektron mempunyai sifat gelombang dan sifat partikel.
2.
Prinsip Ketidak Pastian dari Heisenberg
Heisenberg menyatakan bahwa
pendekatan apapun yang digunakan untuk menentukan secara bersama-sama posisi
dan momentum suatu objek yang bergerak menimbulkan perubahan dalam posisi dan
momentum setiap saat. Prinsip ini dikenal dengan ketidak pastian Heisenberg,
yang menyatakan bahwa posisi dan momentum suatu materi tidak dapat diukur
secara tepat pada waktu bersamaan.
Jika
momentum atau kecepatan suatu partikel dapat diukur secara tepat, maka
posisinya tidak dapat diketahui secara pasti, sebaliknya, jika posisi partikel
dapat diukur secara tepat maka momentumnya tidak dapat diketahui secara pasti,
yang paling mungkin dinyatakan hanya keboleh jadian menentukan posisi dan
momentum dari suatu partikel yang bergerak.
Ketidak
cermatan pengukuran posisi dan momentum suatu patikel berskala mikro seperti
elektronj menjadi sangat bermakna.
Untuk
gerakan benda yang berukuran makro seperti bola pingpong, ketidak pastian dalam
posisi dan momentum jauh lebih kecil dibandingkam ketelitian dalam pengukuran,
sehingga ketidakpastian posisi dan momentum dapat diabaikan.
Dampak
dari ketidakpastian adalah bahwa gagasan bohr tentang electron yang beredar
pada orbit dengan jari-jari tertentu dan kecepatan tertentu tidak dapat
diterima secara ilmu modern, sebab bertentangan dengan prinsip ketidakpastian
Heisenberg. Maka dari itu, ungkapan yang paling mungkin untuk orbit bohr dengan
jari-jari tertentu berdasarkan ketidakpastian Heisenberg tiada lain merupakan
lintasan atau daerah edar yang memiliki keboleh jadian atau peluang ditemukan
electron dalam atom paling tinggi..
3.
Model Atom Mekanika Kuantum
Pada tahun 1926 schrodinger mengajukan
persamaan gerak electron dalam atom yang mempunyai sifat gelombang dan sifat
partikel dalam tiga system koordinat Cartesian. Dasar pemikirannya, jika
electron sebagai suatu partikel memiliki sifat gelombang dalam gerakannya, maka
persamaan gerak electron dalam mengelilingi inti harus terkait fungsi
gelombang.
Dengan diketahuinya bahwa
electron memiliki sifat gelombang dalam gerakannya, pernyataan bohr tentang
posisi electron dalam atom hydrogen berada pada jarak 0,529 Å dari inti menjadi
tidak sahih, sebab gerakan electron tidak bulat linear sebagaimana digambarkan
oleh bohr, tetapi pada jarak tersebut merupakan peluang terbesar ditemukannya
electron dalam ruang keboleh jadian disekitar inti.
Menurut model atom mekanika
kuantum yakni, gerakan electron mengelilingi inti atom diungkapkan dalam bentuk
kuadrat fungsi gelombang atau disebut juga orbital, yaitu keboleh jadian paling
besar ditemukannya electron dalam ruang. Electron, yang menghuni
orbital-orbital dinyatakan dengan seperangkat bilangan kuantum yang diturunkan
secara matematik. Oleh karena daerah keboleh jadian menemukan electron
diperoleh secara matematik, maka orbital dapat juga didefinisikan sebagai
ungkapan matematik untuk menemukan electron dalam ruang disekeliling inti atom.
a.
Bilangan Kuantum dan Orbital
Penyelesaian persamaan
schrodinger untuk masalah atom hydrogen menunjukkan bahwa untuk setiap energy
total yang mungkin, dihasilkan lebih dari satu fungsi gelombang. Fungsi
gelombang dicirikan dengan tiga bilangan kuantum, yaitu bilangan kuantum utama,
bilangan kuantum azimuth, dan bilangan kuantum magnetic. Ketiga bilangan
kuantum ini merupakan bilangan bulat sederhana.
b.
Bilangan Kuantum Utama, n
Bilangan kuantum utama (n)
memiliki nilai 1, 2, 3, …., n bilangan kuantum ini merupakan penentu utama
tingkat energy electron dalam atom dan sebagai ukuran keboleh jadian orbital
ditemukannya electron pada tingkat energy itu. Bilangan kuantum utama merupakan
fungsi radial yang jaraknya diukur dari inti atom.
Orbital-orbital yang memiliki
bilangan kuantum utama sama membentuk kulit. Kulit adalah himpunan
orbital-orbital dengan bilangan kuantum utama sama. Jumlah orbital dalam tiap
kulit ditentukan dengan rumus n2 kulit-kulit ini ditandai dengan
huruf capital dimulai dari K, L, M, N,.., dst.
c.
Bilangan Kuantum Azimut, l
Bilangan kuantum azimuth, disebut
juga bilangan kuantum momentum sudut, yaitu bilangan kuantum yang menentukan
bentuk orbital dan merupakan fungsi gelombang harmonis sperik. Nilai yang
diboleh kan untuk bilangan kuantum azimuth adalah l = n-1. Oleh sebab itu nilai
l merupakan bilangan bulat dar 0, 1, 2, .., (n-1).
Bilangan kuantum azimuth
menyatakan jumlah subkulit dalam tiap kulit (bilangan kuantum utama)
masing-masing sub kulit diberi lambang dengan huruf kecil mulai dari huruf s,
p, d, f,.. dst.
Bilangan kuantum
azimuth, ℓ 0
1 2 3
…..
|
Lambang subkulit s p
d f …..
|
Contoh,
untuk n = 3 maka ℓ memiliki harga 0, 1, dan 2. Jadi dalam kulit M (n = 3)
terdapat 3 subkulit, seperti dalam tabel.
n
|
ℓ
|
Kulit
K
|
0
(s)
|
Kulit
L
|
0
(s), 1 (p)
|
Kulit
M
|
0
(s), 1 (p), 2 (d)
|
d.
Bilangan kuantum Magnetik, m,
Bilangan kuantum magnetic
merupakan tetepan dari fungsi gelombang yang harganya berupa bilangan tetap
dari fungsi gelombang yang harganya berupa bilangan bulat dari –m melalui 0 -
+m. contoh, untuk ℓ = 2, jumlah bilangan kuantum magnetic adalah m = 0, ± 1, ±
2, atau m = +2, +1, 0, -1, -2. Bilangan kuantum magnetic disebut juga bilangan
kuantum orientasi sebab bilangan kuantum ini menggambarkan orientasi orbital
dalam ruang atau orientasi sub kulit dalam kulit. Dengan kata lain, keboleh
jadian ditemukannya electron berada pada orientasi tertentu dalam ruang. Sub
kulit s (ℓ=0) mempunyai harga m=0 artinya tidak memiliki orientasi dalam ruang.
Oleh Karena itu, bentuk orbital sub kulit s adalah bola simetris, ukurannya
bergantung pada harga n. makin besar harga n, makin besar ukurannya. Bentuk ini
menggambarkan keboleh jadian electron dalam ruang berupa bola, dan keboleh
jadian terbesar berada pada kulit bola. Sub kulit p (ℓ=1) mempunyai harga m=0,
±1. Karna itu sub kulit p mempunyai tiga macam orientasi dalam ruang yaitu pada
arah sumbu x, sumbu y, dan sumbu z. bentuk orbitalnya seperti bola terpilin
sepanjang arah tersumbu. Sub kulit d (ℓ=2) mempunyai harga m = 0, ±1, ±2.
e.
Bentuk Orbital dan Sebaran Elektron
1.
Bentuk orbital s
Orbital s memiliki bilangan
kuantum azimuth, ℓ = 0 (m = 0) sehingga orbital s tidak memiliki orientasi dalam
ruang, dan semua orbital s memiliki fungsi gelombang sudut yang tetap.
Oleh karena orbital s tidak mengandung sudut
polar, θ juga sudut azimuth, maka orbital s bebas arah, dan semua orbital s
berbentuk bola simetris disekitar inti. Ini berarti, amplitude dari orbital s
hanya bergantung pada jarak dari inti dan tidak bergantung pada arah dalam
ruang.
2.
Bentuk Orbital p
Orbital p memiliki bilangn
kuantum azimuth sama dengan 1 dan memiliki orientasi tertentu dalam ruang
sesuai fungsi gelombang sudut yang terkait. Untuk setiap nilai bilangan kuantum
azimuth, ℓ = 1, terdapat 3 orbital p sesuai dengan bilangan kuantum magnetic.
Bentuk orbital p memiliki makna bahwa jika electron misalnya memiliki orbital p
maka peluang paling besar untuk menemukan electron pada orbital itu terdapat di
sekitar sumbu z. da peluang akan 0 pada bidang –xy, ditunjukkan oleh bidang
simoul atau lebih umum disebut simpul sudut, merupaka lintasan fungsi gelombang
ketika berubah tanda.
3.
Bentuk orbital d
Semua orbital d mempunyai bentuk
sama (kecuali orbital dz2)1 tetapi arah
koordinat Cartesian berbeda. Bentuk orbital d atau keboleh jadian menemukan
electron pada ℓ = 2 ditentukan dengan mengkuadratkan fungsi gelombang, yaitu
kuadrat dari perkalian fungsi sudut, dan fungsi radial. Fungsi gelombang untuk
orbital f dan yang lebih tinggi dapat dihitung secara matematik, tetapi sukar
untuk digambarkan secara visual.
f.
Bilangan Kuantum Spin, s,
Bilangan kuantum ini muncul dari
hasil pengamatan terhadap berkas sinar dari uap atom-atom perak yang dilewatkan
melalui medan magnet, dilakukan oleh ottostren dan W. Gerlach berkas sinar dari
uap atom-atom perak dalam medan magnet terpecah menjadi 2 berkas. 1 berkas membelok
kearah kutub utara magnet, dan 1 berkas lagi membelok kearah kutub selatan
medan magnet. Dari pengamatan ini
disimpulkan bahwa atom-atom perak mempunyai sifat magnet. Munculnya sifat
magnet dari berkas sinar uap atom disebabkan ole spin electron mengelilingi
porosnya hingga menghasilkan medan magnet dari percobaan Stengerlach dapat
disimpulkan bahwa terdapat dua macam spin electron yang berlawanan arah dan
saling meniadakan. Pada atom yang jumlah elektronnya ganjil, terdapat sebuah
electron yang putarannya tidak ada yang mengimbangi. Akibatnya, atom memiliki
medan magnet sehingga dapat dibelokkan oleh medan magnet yang diterapkan. Spin
electron dinyatakan sebagai bilangan kuantum spin, dilambnagkan dengan huruf s.
bilangan kuantum ini mempunyi harga yang berlawanan tanda +½ dan -½. Tanda +
menunjukkan putaran searah jarum jam, tanda – arah sebaliknya. Sedangkan harga
½ menyatakan peluang electron untuk berputar pada porosnya. Dengan demikian,
setiap orbital dicirikan oleh 3 bilangan kuantum n, ℓ, dan m yang memiliki
bentuk, ukuran, dan orientasi tertentu dalam ruang ditambah 1 bilangan kuantum
spin.
B. Orbital ikatan dan anti ikatan
1.
Orbital molekul anti ikatan
Energy yang dimiliki lebih tinggi dibandingkan
orbitalatom pembentuknya.
2.
Orbital molekul ikatan
Memiliki energy terendah jika dibandingkan
orbitalatom (ketika electron masing belum berinteraksi).
Gambar
Bagian dimana electron massa jenisnya adalah nol.
+ dan – tanda yang menunjukkan tanda dari orbital
(fungsi gelombang)
1.
Electron ditemukan dalam ikatan molekul orbital
akan menstabilkan obligasi dan atom cenderung terus bersama-sama.
2.
Electron pada anti ikatan orbital molekul karena
disosiasi atom.
Suatu molekul yang stabil dapat terbentuk apabila
jumlah elektron pada orbital bonding lebih besar dari jumlah elektron pada
obital antibonding.setengah dari selisih jumlah elektron pada orbital bonding
dan jumlah elektron antibonding dinamakan orde ikatan.
Orde ikatan dapat ditentukan dengan rumus ;I =
½(Nb-Na)I = orde IkatanNb = jumlah elektron dalam orbital bonding Na = jumlah
elektron dalam orbital antibonding.
C. Orbital hibrida karbon
Bentuk
molekul etana dapat diterangkan dengan orbital hibrida sp3 pada
kedua atom carbon. Ikatan C-C dibentuk melalui tumpangsuh antara orbital sp3
dan orbital sp3 dari masing masing atom karbon. Enam ikatan
C-H dibentuk melalui tumpangsuh orbital sp3 sisa dan orbital 1s dari
atom H. ikatan yang terbentuk antara karbon-karbon maupun karbon hydrogen
semuanya ikatan sigma yang terlokalisasi membentuk structure tetrahedral.
Orbital
hibrida sp3 dapat juga diterapkan untuk menjelaskan ikatan dalam
senyawa alkohol, yaitu senyawa karbon yang mengandung gugus fungsi hidroksil,
yang terikat pada atom karbon. Dua alcohol paling sederhana adalah methanol dan
etanol. rumus lewisnya :
Ikatan
dalam methanol dapat dijelaskan melalui orbital sp3 pada kedua atom
karbon dan oksigen. Ikatan antara C-O hasil dari tumpangsuh orbital sp3-sp3.
Ikatan C-H dan O-H hasil dari tumpangsuh orbital sp3 dan orbital 1s. terdapat lima
orbital ikatan pada methanol dengan 14 elektron valensi. Sepuluh dari 14
elektron valensi menghuni kelima orbital ikatan tersebut. Empat electron
valensi menghuni dua orbital sp3 sisa sebagai pasangan electron
bebas pada atom oksigen.
a.
Hibridisasi dalam ikatan rangkap dua
Salah satu molekul paling sederhana yang
mengandung ikatan rangkap dua karbon-karbon adalah etana, C2H4.
Atom-atom pada etana terletak pada satu bidang datar dan masing-masing atom
karbon berikatan dengan tiga atom lain membentuk struktur segitiga datar. Oleh
karena masing-masing atom karbon membentuk segitiga datar, ini mengisyaratkan
terbentuknya orbital hibrida sp2 pada setiap atom karbon, sehingga
ikatan dalam etana dapat dijelaskan dengan orbital hibrida sp2.
Setiap atom karbon masing-masing mengikat dua atom
hydrogen melalui tumpangsuh orbital hibrida sp2dan orbital 1s.
ikatan yang dibentuk semuanya berikatan sigma. Ikatan antara karbon-karbon ada
dua macam.
Pertama, orbital sp2 dari masing-masing
atom karbon bertumpangsuh membentuk ikatan σ C-C.
Pada masing-masing atom karbon masih tersisa satu
orbital hibrida sp2 yang belum digunakan berikatan dengan orientasi
tegak lurus terhadap bidang H-C-H. kedua orbital hibrida sp2 ini
kemudian bertumpangsuhlagi membentuk ikatan kedua. Ikatan ini dinamakan ikatan
phi (π). Jadi, ikatan rangkap dalam etilen dibangun oleh ikatan sigma dan
ikatan phi.
Tingkat energy ikatan-σ dan ikatan π tidak sama.
Karena itu, walaupun ikatan rangkap dua lebih besar daripada ikatan rangkap
tunggal, tetapi bukan berarti kekuatan dua kali dari ikatan tunggal.
Energy ikatan karbon-karbon tunggal sekitar 350
kj/mol, sedangkan energy ikatan karbon-karbon rangkap dua sebesar 600 kj/mol.
Terdapat 12 elektron valensi dalam molekul
etilena, masing-masing menghuni enam orbital ikatan secara berpasangan dengan
spin berlawanan menghasilkan empat ikatan tunggal dan satu ikatan rangkap dua.
Jika dilihat dari konfigurasi electron pada atom karbon dapat diuraikan sebagai
berikut.
Agar terbentuk empat buah orbital sp2
ekivalen maka orbital 2s dan dua orbital
2p dikombinasikan membentuk tiga buah orbital hibrida sp2 yang
ekivalen menurut ukuran dan energy. Konfigurasi electron dalam orbital hibrida
sp2 mengikuti aturan hund. Hasilnyasebagai berikut :
Selanjutnya, dua orbital sp2 setengah
penuh bertumpangsuh dengan dua orbital 1s atom hydrogen membentukdua orbital
ikatan σ terlokalisasi yang ekivalen. Satu orbital sp2 sisa
bertumpangsuh dengan satu orbital sp2 dari atom karbon lain
membentuk satu ikatan σ. Orbital 2p membentuk satu ikatan π. Kedua ikatan
karbon karbon terlokalisasi diantara dua atom karbon membentuk ikatan rangkap
dua.
Ikatan rangkap dua dalam etilene terdiri dari
ikatan σ dan ikatan π masing-masing dihuni oleh dua electron dengan spin
berlawanan. Ikatan π mengunci molekul agar tetap berada pada posisi datar
(tidak dapat berotasi disekitar sumbu ikatan). Akibat dibatasinya kebebasan
berotasi dari ikatan rangkap dua karbon-karbon oleh ikatan π menimbulkan
isomericis-trans, seperti pada molekul 1,2-dikloroetena :
Isomer pertama dinamakan trans-1,2-dikloroetena
sebab kedua atom klorin terletak bersebarangan diantara ikatan rangkap dua karbon-karbon.
Isomer lainnya dinamakan cis-1,2-dikloroetena sebab kedua atom klorin berada
padaa posisi sama sisi dari ikatan rangkap dua karbon-karbon.
b.
Hibridisasi dalam ikatan rangkap tiga
Senyawa karbon yang mengandung ikatan rangkap tiga
cukup banyak. Salah satu contoh yang paling sederhana adalah etuna, C2H2
atau disebut asetilen. Rumus structure dari molekul asetilen ditunjukkan pada
gambar :
Menurut teori domain electron, bentuk molekul
asetilen adalah linier. Oleh karena itu orbital-orbital dalam atom karbon
membentuk orbital hibrida sp. Dua tahap ikatan dalam molekul asetilen yaitu
yang pertama, terjadi tumpangsuh dua orbital sp dari masing-masing atom karbon
untuk membentuk orbital ikatan sigma C-C, kemudian orbital hibrida sp yang
satunya lagi bertumpangsuh dengan
orbital 1s dari orbital hydrogen membentuk dua ikatan sigma C-H
Dua orbital 2p sisa pada masing-masing atom karbon
saling tegak lurus terhadap sumbu H-C-C-H.
Kedua orbital ini dapat bertumpangsuh membentuk
dua orbital ikatan phi. Jadi dalam molekul asetilen ada lima ikatan. Tiga
ikatan sigma dan dua ikatan phi.
Pada molekul asetilen terdapat sepuluh electron
valensi yang menghuni kelima orbital ikatan, masing-masing ikatann dihuni oleh
dua electron dengan spin berlawanan membentuk tiga ikatan σ dan dua ikatan π.
Konfigurasi electron dalam molekul asetilen dapat dilihat dari salah satu atom
karbon sebagai berikut.
Konfigurasi elektronik dari atom karbon pada
keadaan dasar adalah
Agar terbentuk orbital sp yang ekivalen, maka
orbital 2s dan satu orbital 2p tersebut bertumpangsuh membentuk dua orbital
hibrida sp yang ekivalen menurut ukuran dan energy. Konfigurasi electron dalam
orbital hibrida sp mengikuti aturan hund.
gambar :
gambar :
Dua orbital sp setengah penuh, masing-masing bertumpangsuh
dengan orbital 1s dari atom hydrogen dan bertumpangsuh dengan orbital sp dari
atom karbon lain membentuk dua ikatan σ terlokalisasi. Dua orbital 2p sisa dari
masing-masing atom karbon bertumpangsuh membentuk dua ikatan π. Dengan demikian, dalam molekul asetilen
terdapat ikatan rangkap tiga karbon-karbon, satu ikatan σ dan dua ikatan π.
Gambar
c.
Hibridisasi dalam molekul benzena
Terdapat sejumlah molekul yang mempunyai ikatan π.
Salah satu contoh yang penting adalah benzene, C6H6.
Molekul benzene secara prinsip memiliki
dua bentuk resonansi yang dapat diungkapkan dalam bentuk hibrida resonansi.
Bentuk molekul benzene adalah heksagonal datar,
sedangkan structure ruang pada setiap atom karbon dalam benzene adalah segitiga
datar dengan sudut ikatan 120 derajat. Oleh karena itu dapat diduga bahwa
hibridisasi yang terjadi pada atom karbon adalah sp2.











apakah hanya benzene yang memiliki dua resonansi? terimakasih
BalasHapusApakah perbedaan antara hibridisasi sp, sp2 dan sp3?
BalasHapustolong andaa beri 3 contoh selain dari blog yang anda tampilkan tentang hibridasi sp, sp2, sp3 ?
BalasHapusmenurut saya postingan sudah cukup baik tetapi pada dualisme materi anda ada menyebutkan rumus 2 tetapi anda tidak menyebutkan apa rumus nya
BalasHapusmenurut saya postingan anda sudah cukup baik tetapi pada dualisme materi anda ada menyebutkan rumus 2 tetapi anda tidak menyebutkan isi rumus 2 itu apa
BalasHapus